Senin, 26 Maret 2018

Kuliah Umum

Alhamdulillah, senin tgl 26 maret pukul 13.30 sd 15.30 di convention Hall universitas Andalas Padang, kami beri kuliah umum bertema “Digital bukan sekedar teknologi, tetapi kebutuhan dan gaya hidup maka jadilah subjek dari teknologi” . Semoga bermanfaat



dan diberkahi Allah swt.. amin yra

Selasa, 13 Maret 2018

Diskusi masalah bangsa dengan DR Rizal Ramli

Jakarta 13-3-2018,Alhamdulillah, selesai diskusi dengan DR Rizal Ramli untuk bahan dan penajaman buku 7 Pilar Pembangunan Bangsa. sekaligus diberi buku Rizal Ramli Lokomotif Perubahan. semoga berguna untuk bangsa dan menjadi amal pahala. Amin yra!





Alhamdulillah, selesai diskusi dengan DR Rizal Ramli untuk bahan dan penajaman buku 7 Pilar Pembangunan Bangsa. sekaligus diberi buku Rizal Ramli Lokomotif Perubahan. semoga berguna untuk bangsa dan menjadi amal pahala. Amin yra!


Minggu, 25 Februari 2018

Penyerahan dumy Buku 7 Pilar Pembangunan Bangsa kepada ketua DPR

Alhamdulillah, semoga dua buku karya kami Revolusi Mental dan 7 Pilar Pembangunan Bangsa, yang kami serahkan kepada ketua DPR RI ini bermanfaat ikut membangun bangsa.. amin yra. Acara peluncuran buku Buya Maarif yang dihadiri ketua DPR, Menteri BUMN bu Rini, Ketua OJK dan beberapa pejabat tinggi negara dan tokoh bangsa, sabtu 24 Pebruari, di ball room Grand Quality Hotel Yogya




Minggu, 14 Januari 2018

buku 7 Pilar Pembangunan Bangsa

Alhamdulillah, selesai diskusi dengan Jendral Moeldoko mantan panglima TNI untuk materi buku 7 Pilar Pembangunan Bangsa dan menyerahkan buku kami Terbalik-jadikan musuh terburukmu sebagai guru terbaikmu.. semoga bermanfaat.. amin yra




Jumat, 12 Januari 2018

Polda Batam, bedah buku Integritas ditengah kabut idealisme

Batam, 12 Januari 2018

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah atas kelancaran acara bedah buku integritas ditengah kabut idealisme, yang dihadiri pak Gubernur, Dan Lantamal IV laks Eko, dan pejabat2 TNI dan pemda Kepri serta perwira polda kepri.. semoga bermanfaat dan jadi amal pahala..amin yra







Rabu, 03 Januari 2018

Bismilah

Insya Allah, tahun ini gramedia akan menerbitkan 5 judul buku karya kami (2 judul sudah kontrak dan terbit januari ini), semoga berguna untuk bangsa dan menjadi amal pahala ilmu yang berguna.. amin yra






Rabu, 29 November 2017

Demokrasi Indonesia~Salah orang atau salah sistim?

Demokrasi Indonesia
Salah Sistim atau Salah Orang?


            Menyimak perkembangan di tengah masyarakat bangsa akhir-akhir ini, beberapa tokoh pada beberapa media mempermasalahkan sistim pemilihan langsung, sebagai biang keladi kekisruhan berbangsa. Tetunya kesimpulan tersebut belum tentu benar, apalagi jika hanya melihat permasalahan yang terjadi akibat pemilihan presiden (pilres) tahun 2014 dan pemilihan kepala daerah ibu kota Jakarta (pilkada) tahun 2017 kemarin. Karena pemilihan langsung presiden sudah terjadi tiga kali yaitu; tahun 2004, tahun 2009 dan tahun 2014, dan terbukti dua pilpres sebelumnya tidak berdampak seperti yang terjadi sekarang ini. Walaupun pada dua pilpres sebelumnya, suara ketidakpuasan dan ketidaksenangan terhadap presiden terpilih juga cukup sering terdengar, tetapi tidak sampai menimbulkan perpecahan disana sini seperti yang terjadi sekarang. Apakah karena pada dua pilpres sebelumnya yang bertarung tidak head to head tetapi lebih dari dua pasang calon? Atau karena pada era tersebut penggunaan media sosial yang dituding sebagai salah satu penyebab perpecahan di tengah masyarakat, belum sesemarak sekarang? Harus ada penelitian yang mendalam dengan menggunakan data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan, sebelum mengambil kesimpulan.
Mengambil hikmah dari pergesekan di akar rumput ketika hasil pemilu tahun 1999 yan dimenangkan oleh partai demokrasi perjuangan PDIP, tetapi dalam sidang umum majelis permusyawaratan rakyat MPR, ketua umumnya tidak terpilih menjadi presiden. Ternyata para pendukung PDIP tidak bisa menerima kenyataan, walaupun kenyataan tersebut merupakan hasil dari sistim yang sama-sama disepakati. Tidak ada undang-undang dan aturan yang dilanggar oleh Amien Rais cs, ketika berhasil mendudukan Abdurahman Wahid sebagai presiden. Tetapi pendukung PDIP tetap sangat marah, sehingga di beberapa daerah yang menjadi basis PDIP, terjadi kerusuhan yang cukup parah. Mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa pemenang pemilu tidak otomatis menjadikan pemimpin partainya sebagai presiden. Begitu juga ketika alm presiden Abdurrahman Wahid diturunkan dari kursi ke presidenan, yang oleh sebagian besar umat nahdatul ulama NU dianggap sebagai kerjaan Amien Rais ketua MPR yang juga mantan ketua Muhammadiyah. Sebagian umat NU juga marah dan akibatnya beberapa gedung dan aset milik organisasi Muhammadiyah di beberapa daerah dirusak oleh oknum pengikut dan pendukung NU. Dengan dua sejarah kelam bangsa ini ketika masih menerapkan pemilihan kepala eksekutif diserahkan kepada anggota legislatif atau dewan atau majelis sebagai perwakilan rakyat. Maka belum bisa disimpulkan bahwa pemilihan langsung adalah sudah pasti salah atau tidak baik, sehingga harus dirubah kembali.
Apalagi dengan berbagai sandiwara dan permainan konyol yang terjadi di lembaga legislatif. Seperti lahirnya undang-undang yang mengatur majelis, dewan perwakilan daerah, dewan perwakilan rakyat dan dewan perwakilan rakyat daerah atau MD3, sehingga partai pemenang pemilu tidak mendapat perwakilan pimpinan di dewan. Naiknya kembali seorang ketua dewan yang telah mengundurkan diri karena permasalah yang cukup menghebohkan, dan menurut pandangan beberapa tokoh sangat memalukan. Atau masih bercokolnya seorang wakil ketua dewan yang oleh partainya sudah diberhentikan dari keanggotaan partai, padahal dia waktu dipilih menjadi wakil ketua adalah mewakili partainya. Dan banyak lagi lelucon dan sandiwara yang tidak lucu dipertontonkan kepada rakyat, termasuk anggaran yang lebih banyak demi kepentingan anggota dewan ketimbang demi kepentingan rakyat. Sehingga mungkin akan lebih berbahaya, dengan kondisi sekarang ini mengamendemen undang-undang dasar 45 dan menyerahkan pemilihan kepalah eksekutif kepada legislatif. Menghilangkan partisipasi rakyat terhadap sistim pemerintahan dan negara jelas bukan suatu langkah bijak.
Jika belajar dari kemajuan ekonomi dan industri negara China yang sangat luar biasa, setelah mereka melakukan reformasi pada tahun 1978, lalu merubah sistim ekonomi tertutup menjadi terbuka. Kemudian mereka menerapkan demokrasi ala China yang mereka sebut dengan demokrasi vertikal, dimana partisipasi rakyat dalam sistim sangat kuat dan penting. Dalam sistim demokrasi vertikal tersebut, terjadi titik temu antara kebijakan yang dibuat oleh pemimpin dari atas atau top-down dengan emansipasi rakyat atau botton-um. Walaupun mereka menganut sistim partai tunggal, tetapi proses lahirnya seorang pemimpin sudah sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa mereka yang mengutamakan hubungan harmonis. Rakyat bisa melupakan kepedihan masa lalu dan menatap masa depan, karena antara pemimpin dan rakyat  bisa sepakat membangun bangsa untuk kesejahteraan bersama. Dan terbukti reformasi dan sistim yang mereka pakai telah merubah mereka dari negara miskin menjadi negara raksasa industri dan raksasa ekonomi. Walaupun oleh Barat, sering dipermasalahkan sistim demokrasi yang mereka pakai, karena tidak sepenuhnya mengadopsi demokrasi Barat yang menurut Barat adalah cara terbaik.
Belajar dan memperhatikan negara yang sudah mampan demokrasinya, memang tidak ada yang instan, ada negara yang butuh waktu ratusan tahun untuk membangun demokrasi. Juga ada negara yang hanya beberapa puluh tahun saja, contohnya China dan Korea, tetapi kedua negara ini tidak meniru secara utuh demokrasi Barat melainkan menyesuaikannya dengan nilai-nilai luruh bangsa mereka. Nilai luhur bangsa Indonesia adalah musyawarah mufakat, gotong royong dan tepo seliro bertenggang rasa, sehingga mungkin nilai-nilai luhur bangsa yang sudah mulai luntur tersebut yang terlebih dahulu harus diperbaiki. 
Kesimpulannya, diperlukan kajian yang konprehensif dan menyeluruh jika akan kembali mengamandemen UUD 45 khususnya tentang pemilihan langsung. Kalaupun terpaksa harus mengamandemen, maka persyaratan dan tahapan yang dilalui haruslah betul-betul mendukung. Seperti bagaimana sistim dibuat terlebih dahulu, sehingga anggota dewan yang terpilih betul-betul mencerminkan kenegarawan dan kemampuan mengelola negara dari anggota yang terpilih. Sehingga siapapun yang mereka pilih menjadi pemimpin eksekutif adalah merupakan cerminan dari aspirasi mayoritas rakyat. Karena akan sangat berbahaya jika partisipasi rakyat dan berbagai kebebasan yang dinikmati rakyat sebagai buah reformasi ini, kemudian secara tiba-tiba dihentikan.
Demikian, sedikit sumbang saran untuk kemajuan bangsa ini, semoga bermanfaat!
Jakarta, 30 November 2017



Dedi Mahardi

Inspirator dan Author